Awal Cerita

Awal Cerita….

Tahun 2030,

Masa setelah peperangan saudara terbesar memisahkan kembali sebuah negara kepulauan terbesar di dunia yang pernah menjadi incaran banyak bangsa karena kekayaan alamnya yang melimpah.

Tembok-tembok besar didirikan mengelilingi masing-masing pulau untuk menghalangi warganya keluar dan sembarangan memasuki pulau lain, bahkan menghubungi mereka yang berada di lain pulau pun dilarang. Mereka yang disebut sebagai Para Pilar ini mendirikan tembok-tembok dan membuat aturan tersebut karena rasa takut terhadap warga dari daerah lain dan mencegah terjadinya Perang Besar Saudara. Tidak ada lagi bendera Merah Putih, Lambang Garuda yang bertamengkan Pancasila dan menggenggam Pita Bhineka Tunggal Ika, bahlan mereka yang tinggal didalam Tembok tidak lagi mengenal apa itu Indonesia, menyebutkannya saja sudah merupakan pelanggaran berat.

Kamis, 12 Agustus 2030

Seorang bocah bernama Satria, yang sedang menggali tanah untuk menanam jagung tidak sengaja menemukan sebuah kotak yang terbungkus kain berwarna merah yang terkubur di belakang rumahnya. Penasaran dengan bungkusan tersebut, dia segera menghentikan penggaliannya dan berlari kembali ke kamarnya sebelum ada yang melihatnya.

Di kamarnya,

Ia masih ragu untuk membuka bungkusan misterius tersebut. Diguncang-guncang dan diketuk-ketuknya kotak didalam bungkusan tersebut untuk menerka apakah gerangan isinya. Di saat ia tengah asyik menerka-nerka, tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki berat yang menuju ke kamarnya, terburu-burulah ia menyembunyikan bungkusan tersebut didalam sobekan di kasurnya.

BRAAKK!! Suara pintu terbuka keras, dan seorang pria bertubuh kekar dengan janggut dan kumis tebal muncul dan berteriak kepadanya.

“SATRIA!! KENAPA CANGKULNYA KAMU TINGGAL BEGITU SAJA??BAGAIMANA KALAU ADA YANG MENCURINYA??  KAMU PIKIR GAMPANG BELI PERALATAN BERTANI SEKARANG??!” teriak pria tadi dengan mata melotot yang tenyata adalah Ramo, ayah Satria yang sehari-hari bekerja sebagai petani di dekat Tembok Besar.

“Maaf Ayah, tadi Satria denger suara berisik dari kamar, takut-takut kalau ada maling apalagi disini ada barang peninggalan Kakek Mara, jadi aku langsung lari buat ‘ngecek keadaan kamar” jawabnya dengan suara gemetar karena kaget sembari berusaha menutupi tempat ia menyembunyikan bungkusan tadi.

Tiba-tiba wajah seram Ramo berubah menjadi penuh kasih dan membungkuk di depan anaknya dan berkata “Anakku Sayang, Ayah tahu kamu sudah berjanji kepada Kakekmu untuk menjaga pusaka peninggalannya, tapi Tongkat Perak ini kan sudah kamu amankan di lemari khusus yang dirancang sendiri oleh Kakek, jadi kamu tidak perlu kuatir” sambil ia mengusap-usap kepala anaknya. “Ingat, tugas kita sekarang bukan hanya untuk menjaga barang-barang itu, tapi kita juga harus bekerja untuk memberi makan Bunda Maura dan adikmu Riza”.

“Iya Ayah, maafkan Satria. Kalau begitu, biar aku selesaikan tugas mencangkul sebelum hujan turun” jawabnya sembari mengambil cangkul di tangan Ayahnya.

Pada malam harinya, saat makan malam.

“Ayah, boleh Satria bertanya sesuatu?” tanya Satria kepada Ayahnya.

“Tanya apa Kak? habiskan dulu makananmu, jangan ada yang terbuang” ujar Ayah sembari menyuapkan makanan ke Riza.

“Kenapa sih kita tidak boleh keluar dari tembok-tembok ini? tanyanya dengan polos, “Apakah di luar sana ada monster?” lanjutnya.

Ayah terdiam sejenak sambil melirik kepada Bunda.

“Jangan tanyakan itu, kecuali kalau kamu ingin ditangkap oleh Penjaga Tembok” jawab Bunda.

“Tapi Bunda, kata Kakek, dulu Tembok itu tidak ada saat Kakek masih muda. Bahkan Kakek pernah mendaki dan menaklukan gunung-gunung tinggi yang ada di ujung Tembok” tanya Satria dengan tidak sabar.

“Sudah! Habiskan makananmu! Jangan tanya aneh-aneh dan segera tidur! Besok pekerjaan besar menunggu kita! “hardik Ayah.

“Baik Ayah” jawab Satria dengan lemas.

Setelah mencuci alat makan, ia pun pamit tidur kepada Ayah dan Bunda nya.

Di kamar, ia masih penasaran dengan bungkusan yang ditemukannya tadi siang. Namun ia masih belum berani untuk membukanya. Dalam hati ia berkata, “Ya sudahlah, besok-besok saja”

Lampu padam.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s