Bungkusan Merah Itu

5 hari telah berlalu sejak Satria menemukan bungkusan merah misterius yang terpendam di halaman belakang rumahnya, namun belum sedikitpun ia berani untuk membuka dan menyingkap isi dari bungkusan tersebut. Entah kenapa, kemisteriusan bungkusan tersebut menahannya untuk membukanya.

12 Agustus 2030

Jam dinding menunjukkan pukul 00.00 ketika tiba-tiba suara berdetak misterius muncul dari kesunyian malam. Detak yang sama juga mengejutkan dada Satria, sembari terengah-engah ia terbangun dan memegang dada. “Hahh!! Hahh!! Apa itu tadi?” Satria masih berusaha mengatur nafasnya sambil mencaritahu sumber suara detak tersebut. Detak tadi masih terdengar pelan, dan sambil merangkak ia mencari-cari dan menemukan bahwa sumber suara tersebut adalah bungkusan merah misterius yang ia temukan 2 hari lalu.

“Kenapa ada bunyi berdetak? Emang isinya jam?” dihantui rasa penasaran, Satria pun memberanikan diri untuk membukanya. Simpul sederhana yang mengikatnya pun terbuka, dan di dalamnya terdapat sebuah kotak kayu tua berukiran gambar seperti peta tua sebuah kepulauan yang sangat luas. Dirabanya ukiran di kotak tersebut, tiba-tiba jantung Satria seperti tersentak kembali dan matanya tersilaukan oleh cahaya yang muncul dari ukiran tersebut.

Cahaya tadi mulai memudar dan Satria berusaha mengenali keadaan kamarnya kembali, namun yang dilihatnya adalah hamparan padang rumput yang sangat luas. “Hah?? Aku dimana?? Kok bisa ada disini?” dengan terheran-heran, ia berusaha berdiri dan menyapukan pandangannya sejauh mata memandang, namun yang bisa ditemukannya hanyalah hamparan daratan hijau yang sangat luas tanpa dibatasi apapun kecuali pepohonan hijau, pegunungan dan bukit-bukit yang menjulang tegak. Pemandangan ini tidak pernah ia temukan seumur hidupnya, semua ini dikarenakan Tembok yang mengelilingi tempat tinggalnya sangat tinggi dan tebal hingga yang ia tahu hanyalah bayangan Tembok yang menutupi rumahnya.

“Waw, keren banget tempat ini! Tapi, ini nyata atau cuma mimpi??” ia pun mencubit keras pipinya “Aww!! Sakit sih, tapi bagaimana caranya aku bisa kesini?”. Saat masih terheran dengan keajaiban tempat tersebut, ia baru ingat kalau tadi ia sedang membuka kotak kayu di kamarnya, dan ia pun mencari-cari dimana kotak tersebut berada. Disibaknya rerumputan lebat di sekitarnya, namun belum juga ia menemukan benda tersebut. “Haduuhh, dimana ya? Terus kalau ga ketemu, gimana caranya aku pulang??” Disibaknya rerumputan tersebut dengan kakinya yang tidak memakai alas kaki, dan “Dugg!” “Aduuh!! Apaan nih?? Jangan-jangan..??” dengan tidak sabaran, ia pun mencaritahu wujud benda yang mengenai kakinya. “Horee!! Ketemu!” diangkatnya kotak kayu tersebut dan cepat-cepat ia mengeceknya, dan saat ia tengah mencaritahu bagaimana cara ia kembali, secercah cahaya kecil berkedip lemah di salah satu ukiran pulau yang berbentuk seperti kepala burung. Dengan rasa penasaran, disentuhlah titik cahaya tersebut dan Wuuss!! Ia tersedot kembali ke dalam pusaran cahaya menyilaukan, sama seperti saat pertama cahaya tersebut muncul dan membawanya ke tanah yang tak dikenalnya tersebut.

Cahaya tersebut memudar kembali, dan Satria kembali terduduk di lantai tempat ia membuka bungkusan tadi, dengan masih termenung dan berusaha meresapi kejadian ajaib yang baru rasa dialaminya. “Kalau tadi itu bukan mimpi, berarti barusan aku benar-benar pindah tempat dalam waktu singkat dong??” Dilihatnya kaki yang masih basah karena embun dan tanah basah yang tadi ia pijak “Tapi dimana ya tempat tadi itu? Rasa-rasanya belum pernah aku lihat tempat seindah itu disini? Apakah tempat tersebut ada di luar Tembok seperti kata Kakek?”. Ia pun kembali memeriksa kotak kayu tersebut dan mengecek ukiran pulau tempat dimana cahaya tadi muncul. “Rasa-rasanya aku pernah lihat gambar ini, tapi dimana ya?” sambil mengingat-ingat, ia mencoba mencarinya di buku-buku tua dan kertas usang yang ia temukan dan disimpannya di bawah kasur. Koran, Buku Cara Memasak, Buku Pintar Bercocok Tanam, Buku Bacaan Anak-anak, Lampu Minyak, Mangkuk Retak, disibaknya semua benda tua yang ia simpan dan ia pun menemukan sebuah gulungan buku tua yang sedikit sobek di pinggirannya dan terikat dengan pita merah. “Ah, ini dia! Kalau ga salah ini namanya Atlas” dibukalah gulungan buku tersebut yang ternyata berisi gambar-gambar kepulauan yang terdapat juga gambar kepulauan sama dengan yang terukir di kotak kayu tersebut.

Dengan bantuan cahaya seadanya, ia berusaha membandingkan ukiran di kotak kayu tersebut dengan peta yang dimilikinya. “Hmm, kalau gambar ini sesuai, berarti pulau yang mirip kepala burung itu namanya Papua, dan aku berada di pulau Jawa yang jaraknya?? Waaww! Jadi barusan aku berpindah tempat sejauh itu??” ia pun menjatuhkan badan ke kasur sambil membayangkan tempat tadi, “Waww, kereen” ujarnya.

Sekitar 5 menit ia membayangkan kembali padang rumput tadi. Saat ia tengah asyik, terdengar langkah kaki Ayah mendekati kamarnya. Dengan sigapnya, dipadamkan lampu minyak dan disembunyikannya kembali kotak kayu dan kain merah nya tadi dan langsung ia berpura-pura tertidur.

Kriiieeet! Pintu terbuka dan lampu kamar menyala, Ayah pun masuk dan mengecek keadaan. “Hmm, mungkin cuma perasaanku saja” Diusapnya kepala Satria dan Ayah pun kembali membiarkan putra kesayangannya yang tersenyum diam-diam untuk kembali tidur.

Lampu padam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s